hari ini majalah travel online the-travelist.com edisi 3 terbit. tulisan saya dimuat di rubrik laporan utama (laput), isinya membahas beberapa tempat ngopi di kota bandung. semoga saja cukup informatif dan juga menghibur buat yang baca.
sekitar pertengahan oktober saya dihubungi oleh Zy (Ferzya Farhan, editor the-travelist), adik angkatan di unit selam UGM, menawari saya untuk menulis. sempet ragu, karena saya jarang menulis, dan gampang grogi kalo ketemu orang baru. tapi dipikir-pikir ini kesempatan yang bagus juga. akhirnya saya iyakan tawaran Zy. dan saya sama sekali tidak menyesal, "tugas" liputan ini membuat saya bertemu orang-orang yang menarik dengan obrolan-obrolan menyenangkan yang sudah jarang saya dapatkan sekarang ini.
soal kopi sendiri… saya sebenarnya tidak tahu banyak. tapi doyan, dan sering minum. lidah dan hidung saya juga kurang sensitif, uneducated, untuk mengapresiasi kopi. paling sesekali sebel sama kopi yang terlalu encer dan manis, atau kopi yang dengan semena-mena diseduh dalam gelas plastik kemasan air mineral. ingin juga suatu saat belajar kopi dengan lebih "serius", biar bisa lebih pol mengapresiasi minuman asik ini.
affair saya dengan kopi dimulai sekitar usia smp. versi yang pertama saya kenal adalah kopi yang diminum ibu: kopi instan merk nescafe, ditambah krimer dan sedikit gula. jaman itu di tempat saya sepertinya masih jarang kopi sachet racikan pabrik, jadi komposisinya bebas kita atur sendiri. aromanya! aroma kopi adalah faktor "love at the first sniff" yang membuat saya sangat penasaran, tapi sama ibu tidak dibolehkan minum, cuma skali-skali icip satu dua sendok kecil dari cangkirnya.
rasa penasaran yang memuncak mendorong saya untuk mengendap-endap ke ruang makan di tengah malam, ketika semua orang rumah sudah tidur, untuk membuat secangkir kopi untuk saya sendiri. kopi, krimer, dan gula disimpan di sebuah lemari gantung diatas meja makan, dengan hati-hati saya memanjat kursi dan mengambilnya. berdebar-debar, saya meracik kopi pertama saya. mungkin karena gugup, saya tidak pikir panjang ketika menegakkan badan untuk mengembalikan toples kopi. kepala saya sukses menghajar pintu lemari yang setengah terbuka dengan kecepatan penuh. seketika rasanya seluruh darah di tubuh saya membeku. untung tangan saya masih menggenggam si toples dan mulut saya cukup tabah untuk tidak mengaduh atau menyumpah serapah. semenit saya diam, menahan sakit yang berdenyut-denyut sambil sepenuh hati berdoa agar tidak ada yang bangun. untungnya tidak ada, dan saya bisa melanjutkan menyeduh kopi dengan air panas dari termos.
malam itu saya menikmati secangkir kopi hasil perbuatan kriminal dengan kepala benjol. rasanya nikmat luar biasa. dan affair itu tetap berlanjut sampai sekarang.









